Sejarah Singkat Masyarakat adat
Masyarakat adat yang saat ini
mendiami Kampu Towera merupakan orang-orang Kaili Rai. Diceritakan bahwa pada
tahun tahun 1898-1929 Magau ke 15 Kerajaan Parigi kepada Mpogo, (Manteuli)
mendirikan pemukiman yang di sebut Boya. Kemudian Boya yang dipimpin Manteuli
diikuti banyak orang yang sebagian dari masyarakat Tolole dan Siniu. Pada tahun
1910 Boya berubah menjadi Kampung pemukiman. Tidak lama setelah itu, Boya
diserang wabah penyakit yang diakibatkan oleh Juwa Dato atau Nene Penyakit.
Wabah ini menyebabkan masyarakat yang bermukim di Boya Manteuli tersebut
meninggal sebanyak lima orang sampai sepuluh orang di setiap harinya. Sehingga
yang tersisa di kampung tersebut hanta 2 orang. Masyarakat yang tersisa ini
kemudian menyebut Boya dengan nama Karopa, yang artinya habisnya masyarakat
karena serangan wabah penyakit. Dari peristiwa tersebut kemudian Raja Parigi
atau Magau Dusu mulai memerintahkan Manteuli untuk pindah ke Boya atau Kampung
lain.
Batas wilayah ini mulai dari Sungai Towera dan Kampong Siniu dibagian selatan masing-masing kampong diambil wilayahnya sebagian. Untuk Totole dimasukkan wilayahnya, mulai dari sungai Towera sampai Karopua (Bintu) dan kampu Siniu dimasukkan wilayah sebelah selatan, mulai dari sungai Towera sampai kabonena (siloyangi). Yang menjadi batas antara Tolole dan Siniu adalah Sungai Towera. Untuk tanda batas biasanya disebut dengan Povera yang digunakan seperti kayu, daun kelapa yang didirikan untuk menentukan batas wilayah kampung.
Penyebutan dari katan Povera
kemudian menjadi Tovera. Sesuai dengan pengertian dari Bahasa Kaili Rai, Tovera
berasal dari dua kata yaitu: To yang berarti orang dan Vera berarti tanda
batas. Pada akhirnya Tovera disepakati untuk menjadi nama kampung yang artinya
harafiahnya orang-orang yang bermukim di perbatasan. Karena Kampung Tovera ini
terletak di perbatasan dengan Siniu dan Totole. Untuk pertama kali kampung
tovera dipimpin oleh Mahajiri kemudian digantikan oleh Biraganti. Adapun kedua
kepala kampung tersebut merupakan anak dari Manteuli yang merupakan leluhur
dari masyarakat kampung Tovera. Penyebutan kata Tovera lama kelamaan menjadi
Towera. Kampu Towera saat ini merupakan pemekaran dari Desa Tolole dibagian
utara. Pada zaman dulu masyarakat mencari makan dengan cara bertani, nelayan
dengan alat tangkap tradisional.
Pada tahun 1938 terjadi gempa bumi yang dahsyat selama satu bulan yang mereka sebut dengan Lingu Mbose. Guncangan yang kuat mengakibatkan tanah mengalami keretakan atau pergeseran. Pada waktu itu masyarakat memasak dengan menggali tanah untuk perapian karena tidak bisa menggunakan tungku. Dampak dari peristiwa tersebut terjadi pergeseran tanah kisaran 1 m sepanjang sungai towera sampai laut hingga sekarang jadilah sungai towera yang berarah ke laut.
Dahulu kampu Towera ini pernah di
juluki kota Jepang atau Tokyo Kecil dan adanya goa peninggalan jepang pada
tahun 1942.
Agama Islam masuk di bawah oleh
Datokarama sekitar tahun 1908. Setelah Datokarama meninggal, datanglah Suku
Bugis dan Mandar dari Sulawesi selatan mengajarkan Agama Islam dengan cara
mengunjungi rumah masyarakat ke satu rumah yang lain dan juga lewat seni bela
diri atau yang disebut dengan Kontawu atau gulat. Selain itu juga masuk melalui
Tareka. Pada tahun 1967 datanglah Habib Idrus BinSalim Al-jufrie yang meletakan
batu pertama untuk mendririkan pendidikan madrasah alkhairaat. Ini merupakan
Madrasah yang pertama kali didirikan.
Masuknya sekolah pertama kali yaitu SR (sekolah Rakyat) yaitu sekitar pada tahun 1950. Setelah itu di bangun Sekolah Dasar Negeri (SDN) Towera sekitar tahun 1960. Bangunan sekolah ini masih menggunakan pelepah daun kelapa, kursi dari bambu dan papan 1 lembar. Sekitar tahun 1980 mulai di bangun sekolah kedua yang Bernama Sekolah Dasar Inpres.
Kondisi wilayah masyarakat adat Towera saat ini ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak perusahaan untuk di jadikan lahan pertambangan emas. Saat ini pemerintah Desa telah melakukan sosialisasi tentang rencana pembukaan lahan pertambangan, dan menurut pemerintah desa bahwa telah dilakukan survei lahan oleh pihak perusahaan. Isi dari hasil survei bahwa di Wilayah Desa Towera terdapat dua potensi besar diantaranya meas dan biji besi.
Batas Wilayah
Batas Barat Berbatasan dengan Puncak Bulu Seme,
yang terletak di desa towera kecamatan Siniu, Berbatasan dengan Puncak Bulu
Seme Kecamatan Siniu, kabupaten Parigi moutung, Tanda batasnya: Damar 40 Pohon
yang berada di puncak dan mengikuti punggung gunung
Batas Selatan Berbatasan dengan Kampu Siniu, Desa Siniu,
Kecamatan Siniu, kabupaten Parigi Moutung Tanda batasnya: Pal batas buatan
mengikuti garis administrasi desa.
Batas Timur Berbatasan dengan Teluk Tomini (laut)
Batas Utara Berbatasan dengan Desa Tolole Kecamatan
Ampibabo Kabupaten parigi motong Tanda batasnya: Pal batas Karopua, Paruja
(sawah), dan Kayu Nantu
Sumber : DISINI














BERANDAKU
0 comment:
Posting Komentar