SILATURRAHMI SRI MANGKU ALAM II

Kunjungan Silaturrahmi Sri Mangku Alam II di Pombewe

RAPAT DEWAN ADAT

Selesai Pelaksanaan Rapat di Rumah Ketua Dewan Adat Kab. Sigi, di Kaleke.

KEGIATAN BADAN MUSYAWARAH ADAT

Penandatanganan Nota Kerjasama dengan Universitas Tadulako, Unisal, dll.

SILATURRAHMI DI RUMAH BUPATI SIGI

Kunjungan Silaturrahmi Pengurus Dewan Adat Kab. Sigi di Rumah Bupati Sigi ...

DEWAN ADAT KAB. SIGI

Selesai Mengikuti Acara Perayaan ....

SILATURRAHMI RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol di Kantor Bupati Sigi

FESTIFAL DANAU LINDU

Pelaksanaan Libu Mbaso Dewan Adat Kabupaten Sigi bersamaan Festifal Danau Lindu.

PENGURUS INTI DEWAN ADAT KAB. SIGI

Foto Bersama, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara, dan Wakil Wandahara.

PELANTIKAN MAJELIS ADAT KECAMATAN

Pelantikan Pengurus Majelis Adat Kecamatan oleh Ketua Dewan Adat Kab. Sigi ...

LIBU POSAMPESUVU MAROSO

Mediasi Perselisihan Warga Desa Rarampadende dan Desa Pesaku ....

Sabtu, 07 Juni 2025

10 Tumbuhan Liar Berpotensi Obat

SEPULUH TUMBUHAN LIAR BERKHASIAT OBAT

Penulis:  Yeti Sumiati, S.P., M.P.

(Guru SMKN 1 Cugenang)

 

Allah SWT menciptakan alam semesta beserta isinya seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan dengan hikmah. Semua ciptaan-Nya tidak ada yang tidak berguna dan manusia diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengambil manfaat dari hewan dan tumbuhan, sebagimana firman Allah SWT Quran Surat As-Sajdah ayat 27 yang artinya

Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makanan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan”(Q.S. As-Sajdah: 27).

Ayat di atas memberi petunjuk bahwa Allah SWT menciptakan hewan dan tumbuhan untuk kepentingan manusia. Manusia berkewajiban untuk berpikir tentang ciptaan-Nya dan mengembangkannya menjadi suatu ilmu pengetahuan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tumbuhan adalah salah satu sumber daya alam penting ciptaan Tuhan, yang memiliki nilai khusus baik dari segi ekonomi maupun manfaatnya. Usaha pencarian senyawa baru dalam tumbuhan harus terus menerus diteliti karena kemungkinan akan menemukan senyawa baru yang berguna bagi kehidupan manusia.

Ada tumbuhan yang dibudidayakan, ada pula tumbuhan yang dibiarkan tumbuh liar di alam. Tumbuhan yang dibudidayakan kemudian sering disebut sebagai tanaman budidaya, meliputi tanaman pangan, tanaman sayur, tanaman buah, tanaman hias, serta tanaman rempah dan obat.

Tanaman rempah dan obat ada sebagian yang sudah banyak dibudidayakan, seperti jahe, ginseng, lidah buaya, kunyit dan lain-lain, ada pula yang dibiarkan tumbuh dan diambil dari alam, sering disebut sebagai tumbuhan liar.

Di areal tanaman yang dibudidayakan, tumbuhan liar atau gulma sering tumbuh dan hadir dengan sendirinya. Keberadaan tumbuhan liar di areal tanaman budidaya sering dikatakan sebagai pengganggu bagi tanaman budidaya karena bersaing dengan tanaman budidaya dalam hal air, nutrisi, cahaya, dan tempat/ruang. Dalam perkembangannya diketahui bahwa semua tanaman liar mempunyai kandungan bahan untuk obat. Hal ini masuk akal karena di lapangan/areal tanam, tumbuhan liar/gulma tidak diserang oleh hama dan penyakit seperti halnya tanaman budidaya, artinya di dalam tumbuhan liar/gulma tersebut terkandung bahan-bahan yang anti hama dan penyakit (anti jamur, anti bakteri, anti virus).

Sebenarnya nenek moyang kita sejak dahulu telah memanfaatkan tumbuhan kekayaan alam itu dengan bijak. Pemanfaatan ramuan alam untuk tujuan kesehatan sudah ada sejak ratusan tahun silam. Tabib dan herbalis tradisional meracik aneka jenis tumbuhan menjadi penawar penyakit. Sekarang tradisi tersebut kembali dilestarikan dengan adanya gerakan kembali ke alam.

Beberapa tanaman liar yang berkhasiat obat adalah sebagai berikut:

1. Antanan Geude (Centella asiatica (L.) Urb.)


a. Khasiat: antiinfeksi, antitoksik, penurun panas, peluruh air seni.

b. Bagian yang digunakan: seluruh tanaman.

c. Pemakaian:

- Ramuan untuk diminum: 15–30 g pegagan segar direbus, lalu diminum. Atau daun    dilumatkan, lalu diperas dan diminum airnya.

- Pemakaian luar: daun dilumatkan lalu ditempelkan pada bagian yang sakit. Pemakaian lain untuk gigitan ular, bisul, luka berdarah, atau TBC kulit.

d. Cara pemakaian sesuai penyakit:

- Kencing keruh: 30 g pegagan segar direbus dengan air cucian beras dari bilasan kedua dan airnya diminum.

- Susah kencing: 30 g pegagan segar dilumatkan dan ditempelkan pada pusar.

- Demam: segenggam daun pegagan segar ditumbuk, ditambah sedikit air dan garam, kemudian disaring. Ramuan diminum pagi-pagi sebelum makan.

- Darah tinggi: 20 lembar daun pegagan ditambah tiga gelas air direbus hingga menjadi ¾-nya. Ramuan diminum tiga kali sehari sebanyak ¾ gelas.

- Wasir: 4–5 batang pegagan berikut akar-akarnya direbus dengan dua gelas air selama ±5 menit lalu diminum selama beberapa hari.

- Pembengkakan hati (liver): 240–600 g pegagan segar direbus dan airnya diminum secara rutin.

- Campak: 60–120 g pegagan direbus dan airnya diminum.

- Bisul: 30–60 g pegagan segar direbus dan airnya diminum. Pegagan segar dicuci bersih, dilumatkan, lalu ditempelkan pada bagian yang sakit.

- Mata merah, bengkak: Pegagan segar dicuci bersih, dilumatkan, diperas, lalu airnya disaring. Air tersebut diteteskan ke mata yang sakit 3– 4 kali sehari.

- Batuk darah, muntah darah, mimisan: 60–90 g pegagan segar direbus atau diperas, lalu airnya diminum.

- Batuk kering: segenggam penuh pegagan segar dilumatkan dan diperas. Hasil perasan ditambahkan air dan gula batu secukupnya, lalu diminum.

-  Lepra: ¾ genggam pegagan dicuci, lalu direbus dengan tiga gelas air hingga menjadi ¾-nya. Air rebusan disaring dan diminum setelah dingin tiga kali sehari sebanyak ¾ gelas.

- Penambah nafsu makan: satu genggam daun pegagan segar direbus dengan dua gelas air hingga menjadi satu gelas. Air rebusan ini diminum satu gelas sehari.

- Teh daun pegagan segar berkhasiat: pembangkit nafsu makan, menyegarkan badan, menenangkan, menurunkan panas, batuk kering, mengeluarkan cacing di perut, mimisan.

- Lalapan segar pegagan berkhasiat: membersihkan darah, terutama pada bisul, tukak berdarah; memperbanyak empedu sehingga memperbaiki gangguan pencernaan.

2. Cakar Ayam (Selaginella doederleinii Hieron.)


a. Khasiat: menurunkan panas, antitoksik, antikanker (antineoplastic), menghentikan perdarahan (hemostatik), antibengkak (antioedem).

b. Bagian yang digunakan: Seluruh tanaman dan pemakaian kering.

c. Pemakaian:

- Pemakaian untuk diminum: 15–30 g (untuk pengobatan kanker sebanyak 50–100 g) bahan direbus selama 3–4 jam.

- Pemakaian luar: tanaman segar dilumatkan, lalu ditempelkan pada bagian yang sakit.

d. Contoh Pemakaian sesuai penyakit:

- Kanker : 60 g kering direbus selama 3–4 jam dengan api kecil, lalu airnya diminum setelah dingin.

- Batuk, radang paru, radang amandel (tonsilitis) : 30 g tanaman ini direbus dan diminum airnya.

- Jari tangan bengkak : Bahan dilumatkan dan ditempelkan pada bagian yang sakit.

- Tulang patah : 15–30 g selaginella segar direbus dan diminum airnya. Untuk pemakaian luar, bahan dilumatkan dan ditempelkan ke tempat yang patah, yaitu bila patahnya tertutup dan posisi tulangnya baik.

3. Ciplukan (Physalis peruviana L.)


a. Komposisi: Daun ciplukan mengandung asam sitrat, fisalin sterol/terpen, saponin, flavonoid, dan alkaloid. Buah ciplukan mengandung asam malat, alkaloid, tanin, cryptoxantin, vitamin C, dan gula.

b. Bahan: tumbuhan ciplukan yang sudah berbuah dicabut beserta akar-akarnya dan dibersihkan.

c. Cara membuat: bahan dilayukan dan direbus dengan tiga gelas air hingga mendidih dan menyisakan satu gelas, kemudian disaring. Ramuan diminum satu kali sehari.

- Sakit paru-paru: tumbuhan ciplukan lengkap (akar, batang, daun, bunga dan buahnya), direbus dengan 3–5 gelas air hingga mendidih dan disaring. Ramuan diminum tiga kali sehari satu gelas.

- Ayan: 8–10 butir buah ciplukan yang sudah dimasak. Buah dimakan setiap hari secara rutin.

- Borok: satu genggam daun ciplukan ditambah dua sendok air kapur sirih. Bahan ditumbuk hingga halus. Ramuan ditempelkan pada bagian yang sakit.

4. Ki Kumat (Polygala paniculata L.)


a. Khasiat: sebagai obat yang diperoleh sebagian besar berasal dari bagian akar tanaman, dikenal mempunyai efek ekspektoran yang dipakai sebagai obat batuk, asma, dan bronkhitis.

b. Pemanfaatan: air rebusan tanaman ini digunakan sebagai obat gonorrhoe dan sakit rematik di bagian punggung. Daunnya yang dihaluskan dapat digunakan untuk mengobati luka. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara hati-hati karena airnya atau sap-nya dapat menyebabkan rasa perih jika terkena mata.

5. Krokot (Portulaca oleracea L.)


a. Pemakaian: Seluruh bagian herba krokot segar atau yang telah dikeringkan dapat dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit, antara lain:

- Badan sakit dan pegal, serta gangguan sistem saluran kencing: Sebanyak 9–13 g herba krokot segar direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Air rebusan tersebut diminum tiga kali sehari.

- Bisul : dengan membuat teh dari herba krokot (secukupnya), lalu teh krokot diminum setiap hari.

- Borok, eksema, dan radang kulit : Herba segar dicuci bersih, lalu ditumbuk hingga halus dan ditambahkan sedikit garam. Hasil tumbukan dipakai untuk menurap bagian yang sakit.

- Demam Krokot : direbus sebentar, tetapi jangan terlalu matang. Hasil rebusannya lalu dimakan.

- Disentri : 550 g herba krokot segar diuapkan selama 2–4 menit, lalu ditumbuk hingga halus. Hasil tumbukan diperas hingga menghasilkan 150 ml cairan. Hasil perasan diminum tiga kali sehari masing-masing sebanyak 50 ml.

- Jantung berdebar : empat batang krokot dicuci dan digiling. Hasil gilingan ditambahkan ½ cawan air masak dan satu sendok makan madu, lalu disaring dan diminum bersama satu sendok makan madu dua kali sehari.

- Kencing darah : 13 g krokot dan 25 g daun sendok (Plantago major) direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Air rebusan diminum dua kali sehari masing-masing sebanyak satu gelas.

- Luka digigit lipan : Krokot dicuci bersih, ditumbuk hingga halus, lalu diperas. Air perasan itu disapukan pada luka bekas gigitan.

- Radang usus : Segenggam herba krokot segar dicuci bersih, ditumbuk, diperas hingga menghasilkan 30 ml cairan. Lalu ditambahkan gula putih secukupnya dan air hangat kuku hingga menjadi 100 ml. Larutan ini diminum tiga kali sehari.

- Radang payudara dan wasir berdarah : 13 g herba krokot segar direbus dengan dua gelas air, lalu air rebusannya diminum.

- Sakit kuning dan radang gusi : 13 gm krokot direbus dengan tiga gelas air hingga tersisa satu gelas. Diminum tiga kali sehari.

6. Meniran (Phyllanthus urinaria L.)


a. Kandungan kimia: senyawa kimia yang terkandung antara lain zat filantin, kalium, mineral, damar, dan zat penyamak.

b. Contoh pemakaian sesuai penyakit:

- Sakit kuning : 16 tanaman meniran (akar, batang, daun) dicuci, ditumbuk halus, rebus dengan dua gelas air susu hingga mendidih dan tersisa satu gelas. Ramuan disaring dan diminum sekaligus, serta dilakukan setiap hari.

- Malaria : tujuh batang tanaman meniran lengkap ditambah lima biji bunga cengkeh kering dan satu potong kayu manis dicuci bersih, lalu ditumbuk halus dan direbus dengan dua gelas air hingga mendidih. Ramuan disaring dan diminum dua kali sehari.

- Ayan : 17–21 batang tanaman meniran (akar, batang, daun dan bunga), dicuci bersih dan direbus dengan lima gelas air hingga mendidih dan tersisa ±2,5 gelas. Ramuan disaring dan diminum satu kali sehari sebanyak ¾ gelas selama tiga hari berturut- turut.

- Demam : 3–7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun dan bunga) dicuci bersih dan diseduh dengan satu gelas air panas.Ramuan disaring, lalu diminum sekaligus.

- Batuk : 3–7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun, bunga) dicuci bersih, lalu ditumbuk halus dan direbus dengan tiga sendok makan air masak. Hasilnya dicampur dengan satu sendok makan madu dan diaduk hingga merata. Ramuan diminum sekaligus dan dilakukan dua kali sehari.

- Haid berlebihan : 3–7 potong akar meniran kering ditumbuk halus dan direbus dengan dua gelas air hingga mendidih, kemudian ditambah dengan satu gelas air tajin dan diaduk hingga rata. Ramuan disaring dan diminum dua kali sehari.

- Disentri : 17 batang tanaman meniran lengkap direbus dengan tiga gelas air hingga mendidih. Ramuan disaring dan diminum dua kali sehari pada pagi dan sore hari.

- Luka bakar kena api atau air panas : 3–7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun dan bunga) ditumbuk halus dan temulawak diiris-iris, lalu campur dengan satu rimpang umbi temulawak (4 cm), tiga buah bunga cengkeh kering, dan satu potong kayu manis lalu direbus dengan tiga gelas air hingga mendidih. Ramuan dioleskan pada bagian yang sakit.

- Luka koreng : 9–15 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun dan bunga) dicuci bersih dan ditumbuk halus, lalu direbus dengan satu cerek air. Ramuan dalam keadaan hangat dipakai untuk mandi.

- Jerawat : tujuh batang tanaman meniran dicuci sampai bersih dan ditumbuk hingga halus, kemudian direbus dengan dua gelas air hingga mendidih, lalu tambahkan satu rimpang umbi kunyit (4 cm), hingga tersisa satu gelas. Ramuan disaring dan diminum sekaligus, serta diulangi secara teratur setiap hari.

7. Putri Malu (Mimosa pudica L.)


a. Khasiat: sebagai penenang (tranquilizer), sedatif, peluruh dahak (ekspektoran), antibatuk (antitusif), penurun panas (antipiretik), antiradang (anti-inflammatory), peluruh air seni (diuretik). Indikasi: Susah tidur (insomnia), bronkhitis, panas tinggi, herpes, rematik, cacingan.

b. Bagian yang digunakan: Daun, akar, dan seluruh tanaman, baik segar maupun dikeringkan.

c. Pemakaian:

- Pemakaian untuk diminum: daun atau akar, baik tunggal maupun dicampur, seluruhnya direbus dan airnya diminum.

- Pemakaian luar: tanaman segar dilumatkan dan ditempelkan pada bagian yang sakit, seperti luka, radang kulit bernanah (piodermi), dan herpes.

c. Contoh Pemakaian sesuai Penyakit:

- Insomnia : Daun Mimosa pudica sebanyak 30–60 g direbus, lalu airnya diminum.

- Bronkhitis kronis : Akar Minosa pudica sebanyak 60 g dan 600 cc air direbus dengan api kecil menjadi 200 cc. Air rebusannya dibagi untuk dua kali minum.

- Batuk dengan dahak banyak : Akar putri malu sebanyak 10–15 g direbus, lalu airnya diminum.

- Ascariasis (cacingan) Mimosa pudica sebanyak 15–30 g direbus, lalu airnya diminum.

- Rematik : 15 g akar Mimosa pudica direndam dalam 500 cc arak putih selama dua minggu, lalu diminum.

Catatan: Kontra indikasi untuk wanita hamil.

8. Sawi Tanah (Nasturtium montanum Wall.)


a. Indikasi : Radang saluran nafas, batuk, TBC, panas, campak, rematik, sakit tenggorokan, hepatitis, bisul, memar, luka berdarah, gigitan ular, kencing berkurang.

b. Bagian yang digunakan: Seluruh tanaman, baik segar maupun kering.

c. Pemakaian:

- Pemakaian untuk diminum: Sebanyak 15–30 g bahan kering atau 30–60 g bahan segar direbus, lalu diminum.

- Pemakaian luar: tanaman segar dilumatkan dan digunakan sebagai tapal pada luka atau bisul.

d. Contoh pemakaian sesuai penyakit :

- Radang saluran nafas (chronic bronchitis) : 200– 300 mg/hari dibagi dalam empat dosis dan digunakan selama 10 hari.

- Influenza : 30–60 g sawi tanah segar dan 10–15 g bawang putih direbus, lalau air rebusannya diminum.

- Campak : Sawi tanah segar ditumbuk, diperas dan diambil airnya lalu itambah sedikit garam dan diminum.

- Rematik sendi : 30 g sawi tanah segar direbus dan airnya diminum.

- Sakit lambung, melancarkan pencernaan : 30 g sawi tanah kering direbus dan airnya diminum.

- TBC : 30 g sawi tanah direbus, lalu ditambah gula enau dan diminum setiap hari.

- Sakit kuning : ¼ genggam akar sawi tanah, ? genggam daun sawi tanah, dan tiga gelas air rebus hingga menjadi 1½ gelas. Setelah dingin, ramuan disaring dan ditambah madu, lalu diminum dua kali sehari sebanyak ¾ gelas.

- Kencing darah : lima herba sawi tanah (berikut akarnya) dan tiga gelas air direbus hingga menjadi sekitar satu gelas. Ramuan ini diminum tiga kali sehari sebanyak ½ gelas.

- Sakit kandung kencing akibat kedinginan : tujuh tanaman ini (berikut akarnya) dan tiga gelas air direbus hingga menjadi satu gelas, lalu diminum.

- Diare : satu batang sawi tanah seutuhnya ditambah tiga gelas air direbus hingga menjadi 1½ gelas. Setelah dingin, ramuan disaring dan ditambah madu. Ramuan diminum dua kali sehari sebanyak ¾ gelas.

9. Susuruhan (Peperomia pellucida [L.] Kunth)


a. Kandungan Kimia : saponin dan polifenol.

b. Pemanfaatan : Daunnya berkhasiat sebagai obat sakit kepala akibat demam dan untuk obat sakit perut. Caranya : 15 lembar yang dicuci dan diremas-remas, kemudian digunakan sebagai pilis.

10. Tembelekan (Lantana camara L.)

a. Kandungan kimia : minyak atsiri, lantanin dan minyak lemak.

b. Khasiat: akar digunakan sebagai penurun panas, penawar racun (antitoksik), dan penghilang sakit; daun berkhasiat menghilangkan gatal (antipruritus), antitoksik, dan menghilangkan pembengkakan (anti-swelling); bunga berkhasiat sebagai penghenti perdarahan (hemostatik).

c. Bagian yang digunakan: daun, bunga, dan akar kering.

d. Indikasi:

- Akar: influenza, TBC kelenjar, rematik, keputihan.

- Bunga: TBC dengan batuk darah, asmatis.

- Daun: sakit kulit, bisul, bengkak, gatal-gatal, panas tinggi, rematik, dan memar.

e. Pemakaian:

- Pemakaian untuk diminum: bahan-bahan direbus dan airnya diminum.

- Pemakaian luar : daun segar dilumatkan untuk ditempelkan pada bagian yang sakit atau direbus secukupnya untuk mencuci pada penyakit kulit, bisul, luka berdarah, memar, keputihan.

f. Contoh pemakaian sesuai penyakit :

- TBC paru dengan batuk darah: 6–10 g bunga kering direbus, airnya diminum.

- Rematik: rebusan akar secukupnya untuk mandi.

Demikian beberapa tanaman liar berkhasiat obat. Jadi ternyata, obat penyembuh penyakit sudah Tuhan sediakan, sudah ada di alam. Semua penyakit pasti ada obatnya.




Sumber : DISINI

Kamis, 05 Juni 2025

Sejarah Singkat Kecamatan SIGI BIROMARU

 

Sejarah Singkat Kecamatan Sigi Biromaru

Kecamatan Sigi Biromaru merupakan salah satu wilayah Kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Sigi dengan membawahi 17 desa dan 1 UPT Trans.

Berdasarkan catatan Sejarah Sulawesi Tengah, bahwa sebelumnya Sigi merupakan salah satu daerah kerajaan yang dikenal dengan nama “Kerajaan Sigi" yang pusat pemerintahannya berkedudukan di Bora, oleh sebab itu penggunaan kata Sigi dan kata Biromaru dalam sejarah pemerintahan di wilayah ini tidak dapat dipisahkan walaupun antara Sigi dan Biromaru masing-masing juga memiliki riwayat atau sejarahnya sendiri-sendiri.

"Sigi" berasal dari kata "Masigi", karena konon riwayatnya dimana pada zaman dahulu di wilayah sebelah timur Desa Bora yang menjadi pusat pemukiman penduduk waktu itu, tepatnya di daerah yang sekarang disebut Desa Sigimpu tiba-tiba ditemukan sebuah masjid dengan lima orang pegawai syarahnya yang dilengkapi dengan sebuah beduk dan sebuah khotbah yang ditulis di kulit kayu yang oleh masyarakat Sigi disebut Ivo.

Dari kejadian itu, maka orang-orang yang melihat masjid itu dari dekat menyebut "Masigimpu" sedangkan mereka yang melihat dari kejauhan di atas bukit menyebutnya "Masigira", maka mulai saat itulah wilayah yang belum bernama ini oleh masyarakat lazim disebut wilayah "Sigimpu" dengan masyarakatnya dijuluki sebagai "Tosigimpu", sedangkan wilayah yang jauh dari tempat masjid itu oleh masyarakat disebut wilayah "Sigira" dengan masyarakatnya disebut "Tosigira". Demikian julukan nama untuk wilayah ini,  hingga sampai terbentuknya “Kerajaan Sigi” yang menguasai dua wilayah tersebut.

Sedangkan Biromaru menurut sejarahnya berasal dari kata "Biro" yaitu alang-alang yang sejenis tebu,  dan kata "Maru" yang artinya tua atau lapuk. Karena konon sebelum wilayah ini dihuni oleh manusia, wilayah ini masih merupakan suatu hamparan tanah yang luas ditumbuhi tanaman-tanaman "Biro" yakni tanaman alang-alang yang sejenis tebu. Sehingga ketika dating sekelompok orang-orang yang berasal dari daerah pegunungan Lando sekarang disebut Raranggonau untuk berburu"Moasu" babi di wilayah ini, karena melihat kondisi alamnya yang dianggap oleh mereka cukup baik untuk daerah pemukiman dan untuk bercocok tanam, maka sekelompok orang-orang yang datang "Moasu" itu akhirnya bertekad untuk tidak mau lagi kembali ke daerah asalnya di wilayah pegunungan, tetapi bertekad untuk membuka wilayah ini sebagai wilayah pemukiman bagi seluruh keluarga mereka.

Dengan tekad tersebut, maka mulai saat itu wilayah ini menjadi suatu wilayah pemukiman yang baru dan belum bernama. Namun setelah sekian lama mereka menghuni wilayah ini, maka pada suatu ketika dimana saat mereka yang menjadi penghuni wilayah ini sedang bekerja untuk memaras alang-alang yang berupa tebu itu untuk dijadikan persawahan, tiba-tiba salah seorang dari mereka yang bekerja itu menemukan seekor belut dipucuk daun alang-alang seperti tebu itu atau dalam bahasa kaili disebut "Biro" yang sudah tua atau lapuk yang juga

disebut dalam bahasa kaili "Namaru". Dengan kejadian itu maka mulai saat itu

orang-orang yang tinggal diwilayah ini mulai menyebut daerah pemukiman

mereka dengan nama "Biro-maru" sedangkan belut yang didapat di daun "BiroNamaru" tadi dianggap sebagai mustika kampung dalam bahasa kaili disebut "Tinuvu-Nungata", dan belut yang dianggap sebagai "Tinuvu-Nungata" ini hingga sekarang masih tetap disimpan oleh keturunan orang yang menemukan pada waktu itu.

Setelah wilayah ini mulai bernama "Biro-maru" maka mulai saat itu pula wilayah ini dikenal sebagai suatu wilayah kerajaan lokal dengan membentuk sistim kepemimpinan yang dipimpin oleh seorang Madika dan dibantu oleh seorang Baligau, seorang Pabicara dan seorang Tadulako. Hubungan kerajaan lokal Biromaru dengan kerajaan besar Sigi saat itu belum terjalin, namun setelah adanya perkawinan para anggota keluarga Raja-raja, barulah antara kedua daerah ini memiliki hubungan persaudaraan yang sangat kuat dan bahkan mengikat persaudaraan dengan satu semboyan "Ane Tori Sigi Masusa, Tori Biromaru Mageroka Rara" artinya "Jika orang-orang Sigi sedang mengalami kesusahan, maka orang-orang Biromarulah yang akan merasakan kesusahan itu" demikian semboyan itu berlaku secara timbal balik antara Sigi dan Biromaru.

Kemudian setelah diproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia maka terjadilah perubahan-perubahan secara fundamental dalam mencapai tujuan negara sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, dan selanjutnya dinyatakan didalam Undang-Undang Dasar 1945 pada Pasal 18: Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-Undang.

Berdasarkan hal tersebut maka pada tanggal 21 Nopember 1964 ditetapkanlah wilayah Distrik Sigi Biromaru menjadi wilayah Kecamatan Sigi Biromaru dengan susunan 41 desa. Pada tahun 1997 Kecamatan Sigi Biromaru dimekarkan menjadi 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Sigi Biromaru dan Kecamatan Palolo, kemudian dimekarkan lagi menjadi 3 kecamatan yaitu Kecamatan Gumbasa dan Kecamatan Tanambulava.

Kampu TOWERA

 

Sejarah Singkat Masyarakat adat

Masyarakat adat yang saat ini mendiami Kampu Towera merupakan orang-orang Kaili Rai. Diceritakan bahwa pada tahun tahun 1898-1929 Magau ke 15 Kerajaan Parigi kepada Mpogo, (Manteuli) mendirikan pemukiman yang di sebut Boya. Kemudian Boya yang dipimpin Manteuli diikuti banyak orang yang sebagian dari masyarakat Tolole dan Siniu. Pada tahun 1910 Boya berubah menjadi Kampung pemukiman. Tidak lama setelah itu, Boya diserang wabah penyakit yang diakibatkan oleh Juwa Dato atau Nene Penyakit. Wabah ini menyebabkan masyarakat yang bermukim di Boya Manteuli tersebut meninggal sebanyak lima orang sampai sepuluh orang di setiap harinya. Sehingga yang tersisa di kampung tersebut hanta 2 orang. Masyarakat yang tersisa ini kemudian menyebut Boya dengan nama Karopa, yang artinya habisnya masyarakat karena serangan wabah penyakit. Dari peristiwa tersebut kemudian Raja Parigi atau Magau Dusu mulai memerintahkan Manteuli untuk pindah ke Boya atau Kampung lain.

Batas wilayah ini mulai dari Sungai Towera dan Kampong Siniu dibagian selatan masing-masing kampong diambil wilayahnya sebagian. Untuk Totole dimasukkan wilayahnya, mulai dari sungai Towera sampai Karopua (Bintu) dan kampu Siniu dimasukkan wilayah sebelah selatan, mulai dari sungai Towera sampai kabonena (siloyangi). Yang menjadi batas antara Tolole dan Siniu adalah Sungai Towera. Untuk tanda batas biasanya disebut dengan Povera yang digunakan seperti kayu, daun kelapa yang didirikan untuk menentukan batas wilayah kampung.

Penyebutan dari katan Povera kemudian menjadi Tovera. Sesuai dengan pengertian dari Bahasa Kaili Rai, Tovera berasal dari dua kata yaitu: To yang berarti orang dan Vera berarti tanda batas. Pada akhirnya Tovera disepakati untuk menjadi nama kampung yang artinya harafiahnya orang-orang yang bermukim di perbatasan. Karena Kampung Tovera ini terletak di perbatasan dengan Siniu dan Totole. Untuk pertama kali kampung tovera dipimpin oleh Mahajiri kemudian digantikan oleh Biraganti. Adapun kedua kepala kampung tersebut merupakan anak dari Manteuli yang merupakan leluhur dari masyarakat kampung Tovera. Penyebutan kata Tovera lama kelamaan menjadi Towera. Kampu Towera saat ini merupakan pemekaran dari Desa Tolole dibagian utara. Pada zaman dulu masyarakat mencari makan dengan cara bertani, nelayan dengan alat tangkap tradisional.

Pada tahun 1938 terjadi gempa bumi yang dahsyat selama satu bulan yang mereka sebut dengan Lingu Mbose. Guncangan yang kuat mengakibatkan tanah mengalami keretakan atau pergeseran. Pada waktu itu masyarakat memasak dengan menggali tanah untuk perapian karena tidak bisa menggunakan tungku. Dampak dari peristiwa tersebut terjadi pergeseran tanah kisaran 1 m sepanjang sungai towera sampai laut hingga sekarang jadilah sungai towera yang berarah ke laut.

Dahulu kampu Towera ini pernah di juluki kota Jepang atau Tokyo Kecil dan adanya goa peninggalan jepang pada tahun 1942.

Agama Islam masuk di bawah oleh Datokarama sekitar tahun 1908. Setelah Datokarama meninggal, datanglah Suku Bugis dan Mandar dari Sulawesi selatan mengajarkan Agama Islam dengan cara mengunjungi rumah masyarakat ke satu rumah yang lain dan juga lewat seni bela diri atau yang disebut dengan Kontawu atau gulat. Selain itu juga masuk melalui Tareka. Pada tahun 1967 datanglah Habib Idrus BinSalim Al-jufrie yang meletakan batu pertama untuk mendririkan pendidikan madrasah alkhairaat. Ini merupakan Madrasah yang pertama kali didirikan.

Masuknya sekolah pertama kali yaitu SR (sekolah Rakyat) yaitu sekitar pada tahun 1950. Setelah itu di bangun Sekolah Dasar Negeri (SDN) Towera sekitar tahun 1960. Bangunan sekolah ini masih menggunakan pelepah daun kelapa, kursi dari bambu dan papan 1 lembar. Sekitar tahun 1980 mulai di bangun sekolah kedua yang Bernama Sekolah Dasar Inpres.

Kondisi wilayah masyarakat adat Towera saat ini ramai diperbincangkan oleh berbagai pihak perusahaan untuk di jadikan lahan pertambangan emas. Saat ini pemerintah Desa telah melakukan sosialisasi tentang rencana pembukaan lahan pertambangan, dan menurut pemerintah desa bahwa telah dilakukan survei lahan oleh pihak perusahaan. Isi dari hasil survei bahwa di Wilayah Desa Towera terdapat dua potensi besar diantaranya meas dan biji besi.


Batas Wilayah

Batas Barat         Berbatasan dengan Puncak Bulu Seme, yang terletak di desa towera kecamatan Siniu, Berbatasan dengan Puncak Bulu Seme Kecamatan Siniu, kabupaten Parigi moutung, Tanda batasnya: Damar 40 Pohon yang berada di puncak dan mengikuti punggung gunung

Batas Selatan     Berbatasan dengan Kampu Siniu, Desa Siniu, Kecamatan Siniu, kabupaten Parigi Moutung Tanda batasnya: Pal batas buatan mengikuti garis administrasi desa.

Batas Timur        Berbatasan dengan Teluk Tomini (laut)

Batas Utara         Berbatasan dengan Desa Tolole Kecamatan Ampibabo Kabupaten parigi motong Tanda batasnya: Pal batas Karopua, Paruja (sawah), dan Kayu Nantu


Sumber : DISINI


KATIMUNDA

 





Saga rambat, saga telik, atau saga areuy (Abrus precatorius) merupakan tumbuhan obat anti seriawan yang populer. Tumbuhan merambat ini, yang berbiji jingga kemerahan, juga biasa disebut sebagai saga sehingga kadang-kadang rancu dengan saga pohon (Adenanthera pavonina).


Rabu, 04 Juni 2025

KAYU MANURU ( Pohon Secang )

 

KAYU MANURU atau Pohon Secang (Biancaea sappan) dikenal secara luas di Indonesia. Tumbuhan yang satu ini juga sudah banyak dimanfaatkan sebagai tanaman pemberi warna merah. Selain itu, secang juga digunakan untuk membantu meredakan beberapa masalah kesehatan.

 

Pohon secang

Di Indonesia, tanaman ini bisa ditemukan mulai dari ujung barat hingga ujung timur. Secang juga dikenal dengan berbagai nama di luar negeri antara lain sappanwood dalam bahasa Inggris, suou dalam bahasa Jepang, dan su mu dalam bahasa Cina.

 

Secang merupakan pohon kecil atau biasa disebut sebagai pohon perdu. Tingginya hanya mencapai 4—10 meter. Batang pohon secang bisa dikenali dari tonjolan-tonjolan yang serupa gigir dengan banyak duri. Bagian pepagannya berwarna cokelat keabu-abuan.

 

Ranting-ranting pohon secang memiliki duri yang melengkung ke bawah. Meskipun tidak banyak, jarang ranting secang ditemui tanpa duri. Ranting yang masih muda dan kuncup memiliki rambut halus berwarna kecokelatan.

 

Daun secang berbentuk menyirip ganda. Terdapat daun penumpu dengan panjang 3—4 milimeter dan lekas gugur. Pangkal daun miring dan ujung melekuk atau membundar, bertepi rata, dan berambut pendek.

 

Perbungaan pohon secang berada di dalam malai. Malai ini terdapat di ujung batang atau di ketiak atas. Satu malai memiliki panjang 10—40 cm dan mudah rontok. Tangkai bunganya sepanjang 15—20 milimeter.

 

Bunga secang berwarna kuning. Bunga ini berbilangan lima. Kelopak bunga secang cenderung gundul. Bagian teratas malai berukuran paling kecil ketimbang bagian bawahnya. Bunga ini pun akan berkembang menjadi buah secang.

 

Buah secang berbentuk polong dengan bentuk lonjong atau jorong. Bentuknya asimetris. Ujung buah berbentuk seperti paruh. Satu buah berisi dua hingga empat biji. Warna buah secang hijau kekuningan. Jika sudah matang, buah ini akan berwarna cokelat kemerahan.

 

Bagian dalam buah terdapat biji secang yang berbentuk bulat panjang. Biji ini berwarna cokelat kehitaman.

 

Secang banyak tumbuh di lahan-lahan yang berlereng. Tanaman ini tidak tahan terhadap air yang menggenang. Anda bisa menjumpai secang tumbuh di tanah-tanah yang memiliki tekstur liat atau berbatu kapur. Secang juga bisa tumbuh di tanah berpasir yang dekat dengan aliran sungai.

 

 

۞ Alamat Petabuni SANDO Mpokuvava ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞